Biografi Dandhy Laksono dan Fakta Penangkapannya

Polda Metro Jaya telah menangkap pendiri WatchdoC Dandhy Laksono. Dandhy, yang juga direktur film dokumenter Sexy Killers, ditangkap Kamis malam. Seperti Anda ketahui, ia ditangkap pada Kamis, 26 September 2019 pukul 11.00 malam dari kediamannya. Dia ditangkap karena pembahasannya tentang Wamena dianggap berisi pidato kebencian. Sekarang dia diizinkan pulang meskipun dia masih menjadi tersangka dan selanjutnya adalah biografi Dhandy Lakson.


Biografi Dhandy Laksono


Seorang pria dengan nama lengkap Dandhy Dwi Laksono, atau sering disebut sebagai Dhandy Laksono, lahir pada tanggal 29 Juni 1976. Dia pada awalnya dikenal sebagai jurnalis yang telah bekerja di berbagai media cetak, radio, online dan televisi.


Berdasarkan pengalaman editorialnya, ia telah menulis sebuah buku berjudul Indonesia for sale and journalism investigative. Kemudian bersama dengan rekan mereka Andy Panca Kurniawan, mereka mendirikan Watchdog Indonesia, sebuah perusahaan produksi film dokumenter, pada tahun 2009.


Fasilitas produksi ini masih memiliki 165 episode dokumenter, 715 fitur televisi dan setidaknya 45 karya video komersial non-komersial. Ada juga sejumlah film dokumenter terkenal berjudul Unfair Sam’s vs. Semen dan Jakarta. Film pertama adalah tentang masalah komunitas Samin Kendeng yang berjuang melawan pengusiran perusahaan semen, sedangkan film kedua adalah tentang masalah rehabilitasi Jakarta.


Karena beberapa film dokumenter yang sering menyoroti masalah sosial ini, Dhandy secara bertahap dikenal sebagai seorang aktivis. Pada 2015, ia berpartisipasi dalam nama ekspedisi Indonesia yang hanya menggunakan sepeda motor.


Kemudian, pada bulan September 2017, namanya muncul kembali setelah tulisannya, Suu Kyi dan Megawati, membuatnya dikenal oleh Relawan Perjuangan Demokrasi Jawa Timur (Repdem), sebuah dugaan penghinaan terhadap Megawati Sukarnoputr, Organisasi Pejuang Demokrasi Indonesia (PDI).


Nama Dhandy Laksono kembali ke percakapan ketika film Sexy Killer lahir. Film ini adalah film dokumenter yang menyoroti dampak dari sektor pertambangan Indonesia. Film ini juga semakin diperdebatkan karena dirilis beberapa hari sebelum pemilihan presiden 17 April 2019.
Fakta tentang penangkapan Dhandy Lakson

  1. Dandhy tiba di rumahnya pukul 1 malam 22.30 WIB, 15 menit kemudian banyak tamu datang mengetuk rumah, yang kemudian dibuka Dandhy. Tamu nomor empat memimpin seorang pria bernama Fathur yang memiliki surat perintah penangkapan. Lalu di. 23.05 WIB, Dandhy dibawa ke Kantor Polisi Metropolitan Jakarta Raya dengan kendaraan Fortuner. Dua penjaga keamanan RT setempat bersaksi tentang penangkapannya.
  2. Dandhy ditangkap oleh polisi karena dicurigai melakukan kejahatan menyebarkan kebencian. Dandhy didakwa dengan Undang-Undang Transaksi dan Informasi Elektronik, yaitu Pasal 28 (2). 2 dan 45 (2). 2 dan Pasal 14 dan 15 KUHP.
  3. Dandhy diikuti oleh YLBHI dan KontraS oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya. AJI percaya bahwa penangkapan Dandhi tidak beralasan dan bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Akibatnya, AJI meminta polisi Jakarta untuk membebaskan Dandhy dari semua tuntutan.
  4. Ada beberapa laporan bahwa Dandhy diizinkan pulang setelah diselidiki oleh penyidik ‚Äč‚Äčkepolisian Jakarta selama lima jam. Dia diizinkan pulang, tetapi posisinya masih dicurigai sebagai ucapan kebencian di akun media sosialnya.

    Itulah beberapa informasi tentang biografi Dhandy Laksono tentang penangkapannya. Semoga masalah ini diselesaikan dengan cepat.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*